*`*|| “Belum mau berjilbab?” ||*`*


♥ Beralasan belum siap berjilbab karena yang penting hatinya dulu diperbaiki?
Kami jawab, “Hati juga mesti baik. Lahiriah pun demikian. Karena iman itu mencangkup amalan hati , perkataan dan perbuatan. Ha
nya pemahaman keliru dari aliran Murji’ah yang menganggap iman itu cukup dengan amalan hati ditambah perkataan lisan tanpa mesti ditambah amalan lahiriah. Iman butuh realisasi dalam tindakan dan amalan.

♥ Beralasan belum siap berjilbab karena mengenakannya begitu gerah dan panas?
Kami jawab, “Lebih mending mana, panas di dunia karena melakukan ketaatan ataukah panas di neraka karena durhaka?” Coba direnungkan!

♥ Beralasan belum siap berjilbab karena banyak orang berjilbab malah suka menggunjing?
Kami jawab, “Ingat tidak bisa kita pukul ratabahwa setiap orang yang berjilbab seperti itu. Itu paling hanya segelintir orang yang demikian, namun tidak semua. Sehingga tidak bisa kita sebut setiap wanita yang berjilbab suka menggunjing.”

♥ Beralasan lagi karena saat ini belum siap berjilbab?
Kami jawab, “Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? Apa nanti jika pipi sudah keriput dan rambut ubanan? Inilah was-was dari syetan supaya kita menunda amalan baik. Jika tidak sekarang ini, mengapa mesti menunda berhijab besok dan besok lagi? Dan kita tidak tahu besok kita masih di dunia ini ataukah sudah di alam barzah, bahkan kita tidak tahu keadaan kita sejam atau semenit mendatang. Jadi.....jangan menunda-nunda beramal baik. Jangan menunda-nunda untuk berhijab.”

Perkataan Ibnu ‘Umar ra berikut seharusnya bisa menjadi renungan,
“Jika engkau berada di waktu sore,maka janganlah menunggu pagi. jika engkau berada di waktu pagi jaganlah menunggu waktu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang masa matimu.” (HR. Bukhari no. 6416)

Hadits ini menunjukkan dorongan untuk menjadikan kematian seperti berada di hadapan kita sehingga bayangan tersebut mejadikan kit bersiap-siap dengan amalan sholeh. Juga sikap ini menjadikan kita sedikit dalam berpnjang angan-angan. Demikian kata Ibnu Baththol ketika menjelaskan hadits di atas.

0 komentar:

Posting Komentar